Rabu, 23 Desember 2009

Peranan Mahasiswa Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia

Sebuah nasihat dalam bahasa Arab berbunyi, “Inna fi yadisy syubban amrul ummah wa fii aqdaamihim hayaatuha” Sesungguhnya pada tangan para generasi mudalah urusan suatu ummat dan pada derap langkah merekalah kehidupannya. Memang benar apa kata nasihat tersebut bahwa tidak dapat dipungkiri lagi pada saat ini mahasiswa sebagai generasi muda memiliki peranan yang sangat urgen dalam menentukan kehidupan suatu bangsa khususnya di Negara Indonesia yang kita cintai bersama ini.

Pada saat ini masyarakat memandang mahasiswa sebagai agen of social change yang dengan paradigma berpikir dan intelektualitas tinggi yang dimilikinya diharapkan dapat memberikan perubahan yang berarti terhadap kemajuan bangsa.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa dana subsidi pendidikan tinggi negeri berasal dari rakyat. Maka memang sudah sepantasnya dan menjadi kewajiban bagi mahasiswa untuk dapat membayar “utang” tersebut kepada rakyat yang telah banyak membantu dalam proses studi mahasiswa. Dengan demikian mahasiswa juga secara tidak langsung dituntut untuk memiliki social responsibility.
Pada tahun 1998 mahasiswa Indonesia telah berhasil memberikan prestasi yang patut diacungkan jempol dan merupakan pembuktian dari gelar mahasiswa sebagai agen of social change berhasil menggulingkan pemerintahan di rezim Orde Baru ketika itu yang telah sangat tidak membela rakyat seperti terjadinya krisis moneter yang menyebabkan nilai tukar rupiah sebesar 16.000 rupiah per dollar Amerika. Bahkan pada aksi ini ada beberapa mahasiswa yang menjadi korban.
Sekarang mungkin aksi mahasiswa dalam artian turun langsung ke jalan tidak semarak yang dulu, hal dikarenakan instansi-instansi yang ada di pemerintahan telah berjalan pada relnya seperti usaha-usaha yang dilakukan oleh KPK yang patut mendapatkan apresiasi dalam memberantas “bangsat-bangsat negara”. Meskipun demikian, masih ada hal-hal yang perlu dibenahi. Kita sebagai mahasiswa tidak boleh menjadi statis, tidak hanya menjadi suvervisor terhadap kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan politik saja. Melainkan mahasiswa harus mencari cara untuk memberikan social responsibility dari arah yang lain yaitu salah satunya ialah dengan meningkatkan kualitas pendidikan yang ada di Indonesia ini.
Pencerdasan bangsa yang dilakukan oleh mahasiswa sebagian besar telah direbut oleh partai-partai politik yang menjamur mulai tahun 1999. Namun peran mahasiswa sebagai pencerdas bangsa tidak dapat tersingkirkan begitu saja. Hal ini dikarenakan kebanyakan partai politik hanya memfokuskan dalam mencapai tujuan partainya saja dan tidak sedikit juga banyak partai-partai politik yang tampil sebagai pemenang hanya menjadi kacang yang lupa sama kulitnya. Dalam sebuah situs blog di http://myanuar.wordpress.com di sana disebutkan bahwa ada dua peran mahasiswa dalam rangka membuktikan social responsibity-nya yaitu:
  1. Berperan sebagai petugas knowledge transfer dari dunia kampus menuju luar kampus dalam upaya mencerdaskan bangsa dalam berbagai bidang terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah
  2. Sebagai pelopor dalam pembentukan community development untuk memacu dinamisasi kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah.
Knowledge Transfer
Dunia kampus adalah dunia yang penuh dengan berbagai macam idealisme yang berbeda, kumpulan dari idealisme yang sama itu biasanya dihimpun dalam satu himpunan atau UKM (unit kegiatan mahasiswa), sehingga mahasiswa dapat dengan bebas menyalurkan aspirasi dan idealismenya pada komunitas yang dipilihnya. Dengan terwadahinya aspirasi dan idealisme dari para mahasiswa yang memiliki intelektualitas tinggi maka dapat dikatakan kehidupan di kampus merupakan gambaran dari kehidupan masyarakat yang ideal. Namun tidak sedikit ketika kita keluar dari kampus dan menjauh dari komunitas mahasiswa lalu terjun ke masyarakat maka kita akan merasakan bahwa yang namanya kebebasan dalam menyalurkan aspirasi menjadi tidak ada, kejumudan berpikir ada dimana-mana. Di sinilah saatnya mahasiswa berperan sebagai petugas knowledge transfer kepada masyarakat. Di antaranya dengan memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kehidupan di dalam kampus serta mengamalkan ilmu-ilmu yang telah dituntutnya semasa kuliah kepada masyarakat. Rasulullah SAW bersabda bahwa ada 3 sikap orang dalam menuntut ilmu; naqiyyah, yaitu yang dapat menerima ilmu kemudian dia mengamalkannya dan mentransferkannya pada orang lain, ajadib, orang ini memilki kemampuan yang sangat baik dalam menerima dan memahami ilmu diapun dapat mentransferkannya pada orang lain hanya dirinya bagaikan ilmu lilin, menerangi sekitar tapi dirinya terbakar, qi’an, jangan sampai kita menjadi orang ini yang tidak dapat menerima ilmu dengan baik dan tidak dapat mentransfernya kepada orang lain (HR Bukhari).
Knowledge transfer dapat kita lakukan di antaranya dengan mengadakan penyuluhan, training, kerjasama dan pengabdian kepada masyarakat sehingga mereka menjadi bangsa yang cerdas meskipun tidak menempuh pendidikan tingkat tinggi yang diakibatkan mahalnya biaya pendidikan saat ini. Meskipun sebenarnya ada usaha pemerintah untuk mengalokasikan dana pendidikan sebesar 20% namun hal itu belum terealisasi sepenuhnya. Sehingga jangankan meneruskan sampai ke perguruan tinggi, masih ada saat ini juga anak-anak yang tidak tamat SD atau mereka yang mesti belajar dengan atap yang bocor dan dindig sekolah yang hampir roboh.

Community development
Fakta menunjukan bahwa secara tidak langsung komunitas mahasiswa yang ada di sekitar kampus dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitarnya dengan terbentuknya community development seperti mendirikan lembaga pendidikan informal seperti TPQ (Taman Pendidikan Al Qur’an) ataupun bahkan mengisi kegiatan-kegiatan yang ada di masjid sekitar kampus dan lain sebagainya. Dengan cara seperti maka masyarakat akan dapat merasakan kontribusi yang diberikan oleh mahasiswa dalam rangka pencerdasan dan peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.

Kesimpulan
Sebagai penutup, bahwa mahasiswa dengan tingkat intelektualitas dan cara berpikir yang dinamis semua itu belumlah cukup jika tidak dibarengi dengan akhlaq dan nilai norma-norma yang sesuai dengan agama. Karena tidak sedikit juga mahasiswa yang hanya dapat melakukan aksi ke jalan dan melakukan tindakan anarkis tanpa tahu maksud dan tujuan di balik semua itu, mahasiswa yang menjadi korban pergaulan sehingga freesex dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang sudah menjadi hal yang lumrah bagi mereka. Bahkan ada juga mahasiswa yang kecerdasannya tidak dibarengi dengan nilai dan norma kesopanan kedepannya malah menjadi sampah masyarakat yang berdasi dan memakan uang rakyat yang bukan miliknya.
Negeri yang maju adalah cerminan dari bangsa yang cerdas. Dalam sebuah film action seorang paman berkata pada keponakannya, “Kekuatan yang besar akan mendatangkan tanggung jawab yang besar pula”, mahasiswa dengan potensi yang cukup tinggi dan kekuatan yang sangat besar semua itu harus dibuktikan pula dengan tanggung jawab yang besar terutama dalam peningkatan mutu pendidikan di negeri ini sehingga terciptalah dari masyarakat yang cerdas tersebut negeri yang aman dan makmur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar