Monday, March 8, 2010

Hakikat Perayaan Tahunan Menurut Islam

"Selamanya Yahudi dan Nasrani mereka tidak akan pernah ridha kepadamu sehingga kamu mengikuti millah mereka..."(QS Al Baqarah: 120)

Jelas sekali ayat di atas menerangkan bahwa sampai kiamat mereka tidak akan pernah ridha terhadap kita selama kita berpegang teguh terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah sehingga kita mengikuti millah mereka. Dalam ayat ini Allah menggunakan kata millah sebaga pengganti dari kata diin (agama). Millah dalam bahasa arab sama artinya dengan sunnah atau thariqah yang mempunyai makna tatacara ibadah. Sehingga perlu digarisbawahi oleh kita target utama mereka saat ini bukan bagaimana supaya kita murtad keluar dari Islam dan memeluk ajaran mereka melainkan bagaimana supaya tatacara ibadah mereka masuk dan melebur ke dalam agama kita. Artinya meskipun dalam KTP status kita adalah seorang muslim namun jika dalam cara hidup dan ibadah ternyata kita telah sama dengan mereka maka hal itu sudah cukup untuk menjadi kredit poin buat mereka.


Rasulullah bersabda, "Kelak pasti suatu saat nanti kalian akan mengikuti sunnah umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal lalu sehasta demi sehasta, sehingga kalaupun mereka masuk ke dalam lubang biyawak pasti kalian tetap akan mengikutinya." Para sahabat bertanya, "Apakah -yang dimaksud dengan umat sebelum kami- itu yahudi dan nasrani?" Rasul menjawab, "(Kalau bukan mereka) lalu siapa lagi."1

Telah terbukti apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW bahwa umat Islam sekarang ini tidak sedikit di antara mereka yang entah sadar ataupun tidak ajaran-ajaran yahudi dan nasrani telah mereka amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai bukti otentik mungkin salah satunya adalah ketika peristiwa yang dianggap penting telah terjadi maka mereka biasa merayakan/memperingatinya pada tanggal terjadinya itu setiap tahunnya, seperti peringatan hari kelahiran atau ulang tahun. Ulang tahun, birthday, anniversary, milad, maulud, meskipun berbeda-beda istilah yang dipakai namun semua itu tidak merubah substansi atau isinya. Selama semua peringatan dan perayaan tersebut dilakukan pada tanggal yang sama setiap tahunnya maka perbuatan tersebut masuk kepada kategori tasyabbuh. Tasyabbuh ialah meniru/menyerupai umat lain dalam tatacara ibadah. Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang menyerupai (dalam urusan ibadah) suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka." 2

Lalu bagaimana orang yang berdalih dengan istilah syukuran? bukankah tidak salah jika kita bersyukur bahkan diperintah? Jawabnya, betul bersyukur itu diperintah hanya kita mesti tahu bahwa definisi syukur ialah menggunakan seluruh nikmat kehidupan yang kita terima hanya untuk beribadah kepada Allah, artinya tidak hanya pada satu hari dari tiap tahun melainkan setiap detik dan hela nafas kita harus kita gunakan untuk beribadah kepada Allah sebagai wujud syukur kita. Sekali lagi nama dan istilah tidak akan merubah suatu hukum dan substansi.

Pun sama dengan maulud nabi Muhammad SAW yang ramai dirayakan oleh umat Islam. Padahal Rasulullah dan para sahabat tidak pernah mencontohkannya dan agama ini telah sempurna. Perlu digarisbawahi bahwa yang lahir ketika itu bukanlah seorang nabi melainkan manusia biasa karena Muhammad baru diangkat menjadi rasul 40 tahun kemudian dari kelahirannya. Selain itu tanggal kelahirannya juga masih terdapat perbedaan pendapat. Di sini saya bukan menghakimi namun kiranya dapat dibayangkan bagaimana perasaan Rasulullah SAW jika beliau masih ada saat ini dan melihat ummatnya melakukan amalan-amalan yang tidak dicontohkan olehnya serta malah meninggalkan sunnahnya??

Dalam hadits shahih riwayat al Bukhari diceritakan ada seorang Yahudi yang datang menemui Umar bin Al Khattab yang ketika itu beliau menjabat sebagai Khalifah. Si Yahudi berkata, "Wahai Amirul Mukminin -di sini si yahudi memanggil Umar dengan gelarnya karena ada maksud tertentu- ada suatu ayat dalam kitab kalian, kalaulah ayat tersebut turun kepada kami maka pasti akan kami jadikan turunnya ayat tersebut sebagai ied (hari raya)." Umar bertanya, "Ayat yang manakah itu" lalu si Yahudi membacakan "...Alyauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu 'alaikum wa radhiitu lakumul islaama diinaa...(Hari ini Aku sempurnakan agama kalian dan aku sempurnakan nikmatKu atas kalian serta Aku ridha Islam sebagai agama bagi kalian) (QS Al Maidah: 3)" Umar berkata dengan tegas , "Sungguh kami (umat Islam) tahu hari dan tempat turunnya ayat tersebut (yaitu) kepada nabi SAW ketika beliau sedang wukuf di Arafah (dalam haji wada)."3

Dari hadits di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa merayakan suatu peristiwa penting adalah kebiasaan yahudi. Umar dan umat Islam kala itu bukan tidak tahu turunnya ayat tersebut yang merupakan ayat terakhir yang turun kepada nabi Muhammad SAW melainkan karena tidak ada perintah dari Rasul untuk merayakannya. Di dalam Islam hanya ada dua peristiwa penting yang diperingati dan dijadikan sebagai hari raya, Iedul Adha dan Iedul Fitri.

Wallah A'lam bish Shawwab

1. Shahih Muslim,  VIII: 57
2. Sunan Abu Dawud, IV: 78
3. Shahih al-Bukhari, I:49


1 comment:

  1. mantap gan! ^_^

    tidak sedikit orang yang berbeda pola pikir terkait hal ini.

    ReplyDelete